Remitansi : Urat nadi negara dunia ketiga

Remitansi adalah dana yang dibawa masuk oleh pekerja migrant ke negaranya asalnya. Remitansi merupakan salah satu sumber daya ekonomi yang paling besar bagi negara, terutama negara berkembang atau negara dunia ketiga. Bahkan menurut World Bank, remitansi merupakan penghasilan terbesar kedua negara-negara berkembang. Karena itu, tingkat kemiskinan di sebuah negara dapat menurun.

Menurut ekonom Bank Dunia, Dominique van der Mensbrugghe, survey menunjukkan bahwa remitansi menurunkan jumlah kemiskinan rumah tangga di dunia. Dia memberi contoh, di Bangladesh kemiskinan turun 6% dan 11% di Uganda karena remitansi. Bahkan, di Guatemala, kemiskinan turun 50% disebabkan karena remitansi ini.

Menurut ekonom Bank Dunia, Dominique van der Mensbrugghe, survey menunjukkan bahwa remitansi menurunkan jumlah kemiskinan rumah tangga di dunia. Dia memberi contoh, di Bangladesh kemiskinan turun 6% dan 11% di Uganda karena remitansi. Bahkan, di Guatemala, kemiskinan turun 50% disebabkan karena remitansi ini. Selain itu, menurut Bank Dunia, pada akhir 2006, diketahui jumlah remitansi mencapai hampir US$250 Milyar, meningkat sekitar 40% dari tahun sebelumnya sekitar US$167 Milyar. Diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat setiap tahunnya. Ini menunjukkan bahwa remitansi ini membawa pengaruh yang luas, baik bagi si penerima atau keluarga pekerja migran, tapi juga untuk pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Di bawah ini adalah data mengenai remitansi di berbagai negara di dunia :

Negara

Jumlah Remitansi (US$)

A. Eropa

50,805

     Rusia

25,634

     Eropa Tenggara

11,065

     Eropa Tengah

14,106

B. Africa

38,895

     Afrika Utara

17,129

     Afrika Barat

10, 803

     Afrika Timur

5,153

     Afrika Tengah

1,317

     Afrika Selatan

4,493

C. Amerika Latin dan Karibia

68,062

     Amerika Selatan

24,298

     Amerika Tengah

11,031

     Karibia

8,379

     Meksico

24,354

D. Asia

113,946

     Asia Timur

23,079

     Asia Tenggara

32,506

     Asia Pasifik

1,393

     Asia Tengah

10,155

     Asia Selatan

46,813

E. Timur Dekat

29,678

     Timur Tengah

17,617

     Turki

7,477

     Kaukasius

4,584

Benarlah apabila ada orang yang menyebutkan bahwa pekerja migrant adalah pahlawan. Mereka hidup dengan sangat berat di negara orang lain, bekerja banting tulang, tapi hasilnya dapat meningkatkan taraf hidup banyak orang di negaranya. Ambil saja contoh, India dan Filipina merupakan negara yang dipandang sebelah mata dalam hal ekonomi, tapi sekarang mereka menjadi mapan keadaan ekonominya. Faktor terbesar dari peningkatan ekonomi drastis ini adalah karena remitansi yang mereka terima sangat besar. Jutaan orang keluar dari Filipina setiap tahunnya untuk bekerja di luar negeri dan hasilnya snagat memuaskan.

Negara dengan jumlah remitansi terbesar adalah India dan Mexico disusul oleh Cina dan Filipina. India mendapat sekitar US$ 27 Miliar pada periode 2006-2007 disusul Mexico sekitar US$ 25 Miliar. Di Meksiko, pekerja migrant mendapat porsi khusus dalam pengaturan kebijakan pemerintahan. Bahkan pada awal 2006, presiden yang menjabat kala itu, Vincente Fox menjadikan pekerja migrant sebagai salah satu ujung tombak dari kebijakan luar negerinya.

Pada dunia masa kini, dimana sudah tidak ada batasan ruang untuk bekerja, banyak negara yang berharap remitansi akan semakin meningkat sebagai penopang kegiatan ekonomi mereka. Tapi mereka juga tidak diam begitu saja, mereka juga berjanji akan membantu dan meningkatkan kemampuan bagi mereka yang akan kerja di luar negeri di berbagai bidang. Seperti contoh, Bangladesh dan Filipina telah mempersiapkan tenaga kesehatan yang akan bekerja di luar negeri dalam 10 tahun kedepan. India juga menyediakan keahlian di bidang IT. Begitu juga Cina yang terdepan dalam bidang teknik dan kesehatan.

Prospek kedepan untuk bidang ini sangatlah cerah. Ini adalah sebuah lahan dan sumber dana bagi negara yang tidak pernah surut. Bahkan PBB menyatakan bahwa pada 20 tahun kedepan, negara-negara di Eropa membutuhkan sekitar 150 Juta pekerja asing untuk mengatasi masalah kekurangan pekerja local. Semakin majunya transportasi dan orang di negara maju yang semakin sedikit yang ingin bekerja "nyata" juga mendukung untuk majunya tren ini.

Referensi :
http://www.hemisferio.org/al-eeuu/boletines/01/al03_interes.pdf
http://www.remittances.eu
http://www.businessdayonline.com/Economic-Watch/1541.html
http://www.worldbank.org/