Kita saat ini bukan hanya berada di tepi globalisasi, melainkan di dalam dunia globalisasi itu sendiri. Kini, paradigma banyak orang mengenai globalisasi telah banyak berubah dibandingkan sepuluh tahun lalu misalnya. Makin banyak orang bepergian ke bagian dunia lain untuk mencari pekerjaan dan pendidikan yang lebih tinggi. Faktanya, tingkat mobilisasi warga dunia terus meningkat. Selain itu, tingkat keterbukaan masyarakat lokal terhadap warga asing serta perubahan juga semakin meningkat sebagai akibat dari menipisnya peran batas antar-daerah.
Bagaimanapun, banyak orang tetap menganggap bahwa kehadiran para pendatang akan mengancam tersedianya pekerjaan bagi masyarakat local. Dalam bukunya, Kaum Imigran: Negaramu Butuh Mereka, Philippe Legrain mendeskripsikan ketakutan ini sebagai berikut: "Keuntungan bagi seseorang adalah kerugian bagi seorang yang lain." Ini berarti makin banyak orang datang ke suatu negara, makin sedikit pekerjaan tersedia untuk masyarakat lokal. Hal ini memang ada benarnya, meskipun dalam cakupan terbatas. Berikut ini beberapa alasan mengapa penduduk lokal seharusnya tidak takut akan hal tersebut:
1. Kaum pendatang mengambil lapangan pekerjaan yang berbeda dengan yang dimiliki oleh penduduk lokal.
Sebuah artikel dari The Straits Times ("Pekerja asing - satu pintu tertutup, pintu lain?) bertanggal 23 Januari 2008 mempertanyakan keinginan Malaysia untuk mengurangi hingga sejumlah 200.000 pekerja kerah biru di negeri tersebut untuk membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi warga Malaysia. Kenyataannya, pekerjaan kerah biru, misalnya pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, pekerja konstruksi, dsb umumnya digolongkan sebagai pekerjaan kasar olah warga lokal karena gaji yang rendah dengan waktu kerja yang amat panjang. Hanya sedikit penduduk asli yang mau mengambil pekerjaan tersebut, padahal sektor bisnis amat bergantung kepada pekerja kerah biru.
Adalah benar bahwa tidak semua pekerja migran memiliki pekerjaan bergaji rendah. Talenta asing tetap dibutuhkan oleh sebuah negara untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi bila hanya mengandalkan tenaga local. Sebagai contoh, diantara banyak lulusan universitas di Amerika Serikat, pekerja yang lahir di luar negeri kebanyakan bekerja di bidang teknologi dan sains. Adapun kebanyakan warga lokal berkerja sebagai pengacara dan ahli arsip (Ottaviano dan Perl, 2005). Dalam kasus ini, jelas bahwa pekerja asing tidaklah melulu pengganti masyarakat lokal.
2. Para migrant mendorong peningkatan konsumsi di suatu negara.
Arus masuk migrant ke suatu negara sesungguhnya akan menciptakan pekerjaan baru. Bagaimana mungkin? Alasannya cukup sederhana sebenarnya: makin banyak orang masuk ke suatu negara, makin banyak barang dan jasa yang suatu negara butuhkan. Makin tingginya permintaan berakibat pada peningkatan penawaran atas hasil produksi. Ini berarti kita juga membutuhkan lebih banyak sumber daya sebelum dan selama proses produksi. Kita butuh lebih banyak pekerja di bidang manufaktur, banyak petani untuk memenuhi kebutuhan pangan, dan lebih banyak toko untuk menjual barang-barang. Ketakutan akan jargon "Keuntungan bagi seseorang adalah kerugian bagi seorang yang lain " menjadi tidak berdasar karena jargon tersebut tidak mencakup asumsi bahwa pasar akan terus berubah mengikuti perubahan akan permintaan dan penawaran.
3. Kehadiran warga negara asing memperkaya perspektif masyarakat local dan membawa ide-ide segar.
Warga yang tinggal di tempat yang berbeda akan mengalami pengalaman yang juga berbeda. Ketika orang-orang dari berbagai macam latar belakang dikumpulkan, perspektif yang muncul ialah bagaimana membawa lebih banyak keuntungan bagi masyarakat secara keseluruhan. Seorang ahli mesin dari Amerika mungkin akan memiliki pendekatan yang berbeda dalam menyelesaikan suatu masalah bila dibandingkan dengan seorang ahli mesin dari India. Ketika mereka dipertemukan, solusi yang muncul kemungkinan akan lebih kaya daripada ketika mereka berusaha memecahkan maslaah itu sendiri.
4. Para imigran meringankan beban kerja yang dimiliki warga lokal dan sesungguhnya membantu memberikan lebih banyak waktu bagi warga lokal untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik.
Dapatkah Anda membayangkan seorang brilian Ibu yang terpaksa melepaskan posisi managing director hanya karena tidak ada orang untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.? Talenta yang ia miliki tidak sampai digunakan hanya karena tidak ada orang yang mau membersihkan tempat tinggalnya. Untuk itulah, peran pembantu rumah tangga menjadi penting di suatu rumah tangga. Dengan menyewa pembantu rumah tangga, ibu tersebut dapat mencurahkan fokus pada karirnya dan pada gilirannya mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga. Ia bahkan dapat membantu membuka lapangan pekerjaan untuk banyak orang yang pada akhirnya dapat memberikan efek positif bagi masyarakat secara keseluruhan.