Tahukah kamu bahwa banyak orang telah meninggal dalam rangka migrasi? Ribuan orang di beberapa bagian dunia - India, Bangladesh, Meksiko, Filipina, Moroko, Kuba, dan berbagai tempat lain - menginginkan untuk pergi ke negara maju untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Namun, seringkali mereka tidak memenuhi persyaratan. Mereka tidak berbicara bahasa Inggris maupun memiliki pendidikan yang cukup. Mereka tak punya uang, dokumen-dokumen legal, dll. Yang mereka miliki hanyalah keyakinan; mereka harus memeberi makan keluarga mereka di rumah, di mana hidup makin susah untuk mereka.
Bekerja di luar negeri merupakan mimpi yang menjadi kenyataan bagi sebagian orang. Tapi bagi negara tuan rumah, ini berarti makin banyak penjaga yang harus dikerahkan dan tembok kawat berduri untuk dibangun. Semenjak Spanyol dan 29 negara Eropa yang lain menghilangkan kontrol perbatasan dalam Perjanjian Schengen, Moroko telah menjadi gerbang utama bagi imigran ilegal dari Afrika yang menuju Eropa. Ceuta, wilayah kecil di bagian utara Moroko, adalah tempat bagi para imigran untuk mencari jalan ke Eropa secara ilegal. Ketika malam tiba, beberapa orang Afrika menyelundup ke perbatasan dan memanjat 2 pagar kawat setinggi 6 meter yang dibangun oleh pemerintah Spanyol. Wilayah ini dijaga oleh menara jaga, kamera video serta sensor bunyi dan gerakan untuk mendeteksi penyusup. Besar kemungkinan bahwa mereka akan tertangkap oleh polisi Spanyol dan dimasukkan ke penjara.
Selain rute melarikan diri dari Ceuta, sebagian dari mereka mencoba menyeberang dari laut. Menyeberangi laut sangatlah berbahaya. Ratusan orang telah meninggal di laut hanya karena badai atau perahunya terbalik. Perahunya umumnya sangat kecil dan paling banyak memuat 10 orang. Namun biasanya ada sekitar 25 orang dalam perahu dan kondisi memburuk karena badai. Telah terdapat berbagai kasus dimana perahu-perahu tenggelam di laut. Sebagian orang diselamatkan oleh penjaga namun kemudian mereka dijebloskan ke dalam penjara. Sebagian lagi dikembalikan ke negara asal namun beberapa tidak memiliki dokumen legal, bahkan tidak membawa apapun sama sekali. Orang-orang inilah yang akan dimasukkan ke dalam sel tahanan dan mendapatkan sangat sedikiti perawatan medis serta makanan.
Mereka mungkin berpikir bahwa mereka cukup beruntung karena masih hidup namun masalah tidak berakhir sampai disitu. Setelah dilepaskan dari penjara, mereka ditendang ke jalanan tanpa barang-barang apapun. Orang-orang tidak memberi mereka pekerjaan karena mereka tidak memiliki dokumen-dokumen legal. Merea bahkan tidak punya tempat untuk tidur.
UNITED, sebuah jaringan Eropa yang menlawan nasionalisma, rasisme, fasisme serta mendukung migrasi dan pengungsi mendata bahwa sebanyak 8.855 migran telah meninggal di Eropa sejak tahun 1993. Mayoritas meninggal karena tenggelam, kelaparan, dehidrasi di laut, sesak napas ketika bersembunyi di dalam truk kargo, bahkan bunuh diri yang disebabkan oleh rasa frsutrasi.
Kita mungkin tidak peduli, bahkan malas untuk mengetahui bahwa ribuan orang mati di perbatasan dalam mengejar kebahagiaan.