Bayangkan ini – “Kamu baru saja mengalami hari yang berat di tempat kerja (atau sekolah). Kamu kembali ke rumah hanya untuk menemukan pintumu terkunci dan tidak seorang pun ada di rumah. Kamu menggunakan kuncimu untuk masuk, langsung menuju ke komputermu, dan log in ke emailmu. Kamu baru saja mendapat email; pesan yang di-forward yang datang dari temanmu. Ia menunjukkanmu sebuah foto tentang perjalananmu seminggu sebelumnya, tetapi semua wajah temanmu telah diganti dengan wajah selebritis favoritmu. Dan kamu pun tersenyum senang.”
Dengan bertambahnya popularitas kamera digital dan perkembangan software photo editing, mengedit foto dan memalsukannya telah menjadi populer tahun demi tahun. Foto palsu telah menjadi sangat umum di internet akhir-akhir ini sehingga setiap orang paling tidak menjumpainya satu kali setiap harinya, di suatu tempat atau di tempat selain internet. Kita semua mungkin pernah melihat seekor belalang raksasa memanjat bangunan empire state di NYC, tapi kita dengan otomatis mengasumsikan bahwa foto-foto ini palsu dan mereka diciptakan untuk kesenangan. (Fiete, 2005)
Hanya ketika foto palsu diciptakan dengan motif selain hiburan lah saat dimana kita harus menilai dan memutuskan apakah kita dapat mempercayai foto tersebut atau tidak. Oleh karena itu, kesadaran akan bagaimana foto palsu dibuat dapat menolong kita agar terhindar dari penipuan.
Apakah foto palsu itu?
Sebuah foto palsu dapat didefinisikan sebagai foto dari suatu objek yang tidak menggambarkan apa yang seharusnya objek tersebut gambarkan.
Bagaimana foto palsu diciptakan?
Foto palsu dapat diciptakan dengan menggunakan:
1. Ruangan gelap dan teknik perbaikan foto
2. Menggunakan computer dan software photo processing
Penjelasan dalam artikel ini dibatasi pada software photo processing saja.
Anatomi sebuah image digital
Mari kita lihat image digital di bawah ini –
Sebuah image digital dibuat dari banyak titik (yang disebut elemen gambar atau pixel) yang terdiri dari berbagai warna dan tingkat keterangan. Image ini disimpan di memori sebagai deret angka dan setiap deret menyatakan tingkat keterangan dari pixel masing-masing ( angka tersebut bervariasi dari 0 untuk hitam sampai 255 untuk putih). Image dengan warna kelabu 8 bit mempunyai 28 = 256 gray value( 0 sampai 255). Sebuah warna 24 bit disusun secara mengkombinasikan gray value yang berbeda dengan image hijau, merah, dan biru secara bersamaan. Sehingga ada 224 (16777216) pilihan warna untuk setiap pixel.
Sementara itu, seorang artis bisa “menggambar” sebuah image dari sebuah scratch dengan mengalokasikan gray value ke setiap pixel dalam image 8 bit, sedangkan jumlah pilihan warna dalam image 24 bit tidak memungkinkan proses ini.
Oleh karena itu, foto palsu sekarang diciptakan dengan lebih baik menggunakan software grafik computer yang didesain untuk menghasilkan objek 3D dengan iluminasi realistis.
Cara yang paling umum untuk menghasilkan image palsu adalah dengan mengubah image yang sudah ada.
Bagaimana kita tahu sebuah image palsu atau tidak?
Mari kita lihat dua imag di bawah ini :
![]() |
![]() |
Coba lihat dua image di atas. Salah satu dari mereka adalah foto asli sementara yang satunya telah dimanipulasi oleh tim “The Credibles”. Kami telah melakukan beberapa langkah dan kami akan memberitahumu bagaimana mengenali image yang palsu.
Merubah konteks atau isi
Sebuah image yang palsu, baik dari segi konteks maupun isinya, tidak sama dengan image yang asli. Sebuah image yang diganti konteksnya adalah foto yang diklaim sedemikian rupa namun sebenarnya tidak. Sebuah image yang diganti isinya adalah foto yang telah diedit sehingga berbeda dari foto yang diambil dari kamera sebelumnya.
Contoh :

The Surgeon's Photo, 1934, yang menunjukkan foto Monster Loch Ness, adalah image yang telah diganti konteksnya. Foto ini ternyata hanyalah sebuah mainan kapal selam yang sudah dipasangi satu bentuk kepala ular. Dalam kasus kami, image tangan dan kepingan dibuat dengan mengedit pixel dalam foto menggunakan software dan dengan demikian mereka adalah image yang isinya telah diubah.
Menambahkan elemen ke dalam image
![]() |
Editor image yang berbakat dapat meleburkan dua image dengan menambahkan elemen yang satu ke yang lain. Ketika elemen ditambahkan, pemalsuan dapat dikenali dengan memperhatikan adanya bayangan aneh yang menyalahi hukum fisika. : Contoh : Foto ini menggambarkan seorang veteran Vietnam, John Kerry, yang berpidato di depan massa pada sebuah kampanye anti perang. Sebuah gambar yang menggambarkan seorang aktris Amerika Jane Fonda yang bernyanyi di depan massa pada suatu kampanye hak asasi manusia telah digunakan ntuk menciptakan image palsu di bawah ini. Walaupun foto tersebut telah dipalsukan dengn sangat baik, bayangan di sekitar tangan Fonda terlihat aneh.
|
Mengeluarkan elemen dari sebuah image
Mengeluarkan elemen dari sebuah image adalah sebuah cara umum dan telah populer semenjak abad kedua puluh dengan tujuan propaganda rezim politik. Ketika orang-orang tidak suka akan suatu pemerintahan, menghapus beberapa elemen dalam dokumen hostoris foto menjadi populer.
1920 : Vladimir Lenin dengan Leon Trotsky di Bolshoi Theater Moscow
Tujuh tahun kemudian, perebutan kekuasaan meletuskan revolusi dalam tubuh Partai Soviet Komunis – dan sebuah foto retoucher menghapusnya dari dalam foto.
1927 : Vladimir Lenin di Bolshoi Theater. Tapi di mana Trotsky?

Terkadang ketika elemen dihapus dari sebuah image, noise characteristic menjadi tidak konsisten dan kekontrasan pixel menjadi minimal. Ketika dibesarkan, kita dapat melihat bahwa image nomor 1 adalah asli dan image nomor 2 dan 3 palsu:
Klik image untuk melihat versi yang lebih besar
Hal lain yang harus dipertimbangkan untuk mengenali image palsu
- Gunakan akal sehatmu: Apabila image tersebut terlihat nyata dan dapat diklik, tidak ada alasan untuk memalsu image semacam itu dan demikian kemungkinan besar image tersebut asli. Jika image terlihat tidak dapat terpercaya, kemungkinan besar image tersebut palsu.
- Fokus pada detail : fokus pada detail dalam composure dan tekstur. Hampir semua image yang dihasilkan oleh computer tidak terlihat nyata dan tidak akan menipu kecuali jika diciptakan dengan sangat ahli.
- Teliti secara visual untuk menemukan inkonsistensi secara fisik: Sifat fisik dari image yang dapat diakses meliputi kondisi iluminasi, ketajaman tepi, resolusi, tone, skala relative, dan noise characteristics.
Referensi
- Fiete, Robert D. Photo Fakery. OE Magazine
the SPIE magazine of Phototonics Technologies and Applications - Jan '05
Diambil pada tanggal : 26/03/2007 - “The Loch Ness Saga,” by Dr. Maurice Burton, New Scientist, June 24, 1982, p. 872; July 1, 1982, pp. 41-42; July 8, 1982, pp. 112-113.
- US News
Diambil pada tanggal: 26/03/2007
Link Eksternal





